IMPLEMENTASI PARADIGMA INTEGRASI-INTERKONEKSI DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERFIKIR KREATIF SISWA

Studi Pembelajaran PAI di SMP IT Abu Bakar Yogyakarta

  • Besse Tantri Eka SB UIN SUKA YOGYAKARTA

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah berawal dari adanya pendikotomian antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama, sehingga memunculkan kesenjangan antara ilmu agama dan ilmu sekuler yang pada hakikatnya kedua ilmu tersebut saling berkerjasa sama, saling tegur sapa  dan saling keterkaitan antara satu bidang dengan bidang yang lain. Tidak saling menyalahkan atau mengkafirkan satu dan yang lain. Oleh karena itu peneliti menawarkan Paradigma Integrasi-Interkoneksi yang hakikatnya ingin menunjukkan bahwa antar berbagai bidang keilmuan tersebut sebenarnya saling memiliki keterkaitan, Karena memang yang dibidik oleh seluruh disiplin keilmuan tersebut adalah realitas alam semesta yang sama, hanya saja dimensi dan fokus perhatian yang dilihat oleh masing-masing disiplin ilmu yang berbeda. Dengan paradigma ini, seorang pendidik harus memiliki visi integrasi-interkoneksi yakni mengkaji satu bidang keilmuan dengan memanfaatkan bidang keilmuan lainnya sehingga tidak adanya kesenjangan antara ilmu agama dan ilmu umum. Adapun kelebihan dari paradigma integrasi-interkoneksi dalam proses pembelajaran adalah membuat belajar mengajar tidak menoton dan tidak kaku salah satu contoh yang diterapkan oleh guru PAI di SMP IT Abu Bakar adalah ketika guru menyampaikan materi tentang “Haji dan Umrah” guru berusaha untuk mengintegrasikan dan mengkoneksikan dengan ilmu Astronomi tentang “Pusat Orbit Matahari” dan membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran di kelas

Published
Aug 14, 2018
How to Cite
SB, Besse Tantri Eka. IMPLEMENTASI PARADIGMA INTEGRASI-INTERKONEKSI DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERFIKIR KREATIF SISWA. Al - Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan, [S.l.], v. 5, n. 1, p. 536-554, aug. 2018. ISSN 2550-0686. Available at: <http://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/ikhtibar/article/view/493>. Date accessed: 19 oct. 2018.
Section
Articles