Main Article Content

Abstract

Studi ini bertujuan menggambarkan prosesi adat turunmani pada masyarakat Gayo. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam mengungkapkan simbol-simbol dan makna adat pada acara kelahiran. Teknik pengumpulan data antara lain wawancara, observasi, dan studi dokumen. Temuan lapangan menunjukkan bahwa prosesi turunmani melandasi perwujudan ikatan sudêrê dan solidaritas kampung. Ketika prosesi turunmani dilakukan sebenarnya ada konsekuensi yang mengikutinya, yaitu status bayi tersebut menjadi anak Rêjê dan masyarakat kampung. Dengan demikian, orang dewasa memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam proses pendidikan anak-anak di kampung tersebut. Namun realitas ini tidak lagi sepenuhnya dimengerti oleh sebagian besar warga. Hal itu acapkali menjadi katalis konflik yang mendorong banyak keluarga pada saat ini lebih memilih untuk mengurus urusan keluarga masing-masing dalam rangka menghindari keributan dengan keluarga lain di kampung tersebut. Hal itu berdampak secara luas terhadap jalinan relasi sosial pada masyarakat kampung. Ikatan kekerabatan dan solidaritas sosial semakin lemah. Di sisi lain, individualitas semakin kuat yang tercermin pada maraknya budaya pesta yang memboncengi prosesi sintê môrep.

Keywords

prosesi turunmani solidaritas Masyarakat Gayo

Article Details

How to Cite
Setia Bakti, I., & Anismar. (2022). Prosesi Turunmani (Kelahiran) dan Rekonstruksi Solidaritas Pada Masyarakat Gayo. Al-Hikmah Media Dakwah, Komunikasi, Sosial Dan Kebudayaan, 13(1), 1-10. https://doi.org/10.32505/hikmah.v13i1.3319

References

  1. Al-Gayoni, Y. U. (2012). Tutur Gayo. Pang Linge dan Research Center for Gayo.
  2. Aman Pinan, A. R. H. (2001). Daur Hidup Gayo. Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah.
  3. Bakti, I. S., Amin, K., & Fakhrurrazi, F. (2020). Ruang Sakral dan Ruang Ritual Prosesi Adat Pernikahan Sintê Mungêrjê pada Masyarakat Gayo Lôt. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), 1(2), 168. doi: 10.29103/jspm.v1i2.3133
  4. Bakti, I. S., Hamdi, E., & Nur, M. (2018). Pergeseran Pola Pemberian Nama Anak pada Generasi Millenial dan Post-Millenial. Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 12(1), 24–37. Retrieved from http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/JSU/article/view/11694
  5. Bakti, I. S., Harinawati, & Ikramatoun, S. (2021). Dari “Diislamkan” ke “Dipestakan”: Pergeseran Makna Mujêlisên (Khitanan) pada Masyarakat Gayo. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), 2(1), 1–12. doi: 10.22373/jsai.v2i1.1138
  6. Bakti, I. S., Nirzalin, & Abidin. (2020). Reification of the Signified and Consumerization of Wedding Receptions “Sintê Mungêrjê” In The Gayo Lôt Society In Central Aceh District. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 8(2), 15–35. doi: 10.22500/8202030444
  7. Berger, P. L. & Luckmann, T. (2012). Tafsir Sosial atas Kenyataan : Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta : LP3ES.
  8. Bowen, J. R. (1984). The History and Structure of Gayo Society: Variation and Change in the Highlands of Aceh. A Bell & Howell Company.
  9. Darmawan, D. (2010). Peranan Sarak Opat dalam Masyarakat Gayo. Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 12(1), 87-107.
  10. Evanirosa, E., & Ali, R. (2020). Aktualisasi Nilai Pendidikan Masyarakat Etnik Gayo melalui Budaya Adat Beru Berama Bujang Berine. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(10), 1095-1108.
  11. Fasya, T. K. (2018). Egalitarianisme Gayo Sebuah Inisiatif Antropologi Sosial dan Etnografi Politik. Aceh Anthropological Journal, 2(2), 1-19.
  12. Ibrahim, M. & Aman Pinan, A. R. H. (2009). Syariat dan Adat Istiadat. Yayasan Maqamammahmuda.
  13. Marhamah, M. (2014). Pola Komunikasi dan Stratifikasi dalam Budaya Tutur Masyarakat Gayo. El-Harakah (Terakreditasi), 16(2), 255-270.
  14. Melalatoa, M. J. (1982). Kebudayaan Gayo (No. 1). Jakarta: Balai Pustaka.
  15. Mustafa, A., & Hidayat, R. (2017). Islam Gayo: Studi tentang Akulturasi Islam dengan Budaya Lokal di Kabupaten Aceh Tengah. Al-Mishbah: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi, 13(2)
  16. Sukiman, S. (2015). Pengaruh Modernisasi terhadap Tradisi Pendidikan Anak dalam Masyarakat Suku Gayo. El-Harakah (Terakreditasi), 17(2), 275-291.
  17. Syukri (2006). Sarakopat: Sistem Pemerintahan Tanah Gayo dan Relevansinya terhadap Pelaksanaan Otonomi Daerah. Jakarta: Hijri Pustaka Utama.