METODE DAKWAH HAMKA DALAM MEMILIH PEMIMPIN: Studi Penafsiran Surat Al-Mā’idah/5 ayat 51 dalam Tafsir Al-Azhar

  • ‘Isyatul Luthfi

Abstract

Kepemimpinan non-muslim di Indonesia masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan agamawan dan pemerintah. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh adanya pemahaman masyarakat terhadap teks-teks keagamaan seperti surat al-Mā’idah/5 ayat 51 yang secara tekstual dipahami sebagai larangan memilih pemimpin non-muslim. Tulisan ini berupaya menganalisis penafsiran Hamka tentang ayat tersebut dengan pendekatan ilmu dakwah, tafsir, dan hermeneutika. Hamka menggunakan pendekatan adabi ijtimā‘ī dalam penafsirannya, sehingga kaya dengan konteks sejarah. Metode dakwah yang digunakan Hamka dalam penafsiran adalah metode al-mau‘izhah al-Hasanah. Hasil penafsiran Hamka pada surat al-Mā’idah/5 ayat 51 adalah berupa pelarangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin. Hal tersebut didasarkan kepada lingkaran hermeneutika Hamka karena kedalaman bahasa Arab yang dimilikinya dan pengetahuan bidang sejarah yang luas. Sedangkan hermeneutika dialektis Hamka tidak terlepas dari penulisan Tafsir alAzhar yang dilakukannya di balik jeruji besi akibat tuduhan yang harus diterimanya, karena keadaan politik Indonesia yang tidak stabil, pada saat itu kekuasaan ada di tangan Partai Komunis Indonesia.
 

Published
Apr 22, 2018
How to Cite
LUTHFI, ‘Isyatul. METODE DAKWAH HAMKA DALAM MEMILIH PEMIMPIN: Studi Penafsiran Surat Al-Mā’idah/5 ayat 51 dalam Tafsir Al-Azhar. Al-Hikmah, [S.l.], v. 9, n. 14, apr. 2018. ISSN 2086-9762. Available at: <http://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/hikmah/article/view/395>. Date accessed: 21 oct. 2018.