Main Article Content

Abstract

The cultural, ethnic, and religious diversity that characterises Indonesian society can often be a source of social friction if it is not balanced with inclusive and transformative education. Islamic education, as one of the dominant education systems in Indonesia, is still often trapped in a normative-doctrinal approach that lacks multicultural awareness. This article aims to examine Abdul Munir Mulkhan's thought as a conceptual offering in the reactualization of multicultural Islamic education that is more contextual and transformative. This research uses a qualitative approach to library research by examining the primary and secondary works of Abdul Munir Mulkhan and other relevant supporting literature. The results of the study show that Mulkhan offers a model of Islamic education based on transformative humanism and substantive multiculturalism through the concept of "transcendental-praxian Islam". Islamic education, according to him, should prioritise the marginalised as its main subject, respect spiritual pluralism, and be integrated with local values. This model not only rejects religious exclusivism, but also encourages a liberating and glueing social proxy. The implications of Mulkhan's ideas encourage curriculum reformulation, teacher training, and institutional policies that are responsive to the pluralistic realities of society. This reactualization is important to prevent radicalism, strengthen social cohesion, and form an inclusive and visionary generation of Muslims. Therefore, it is recommended that Islamic education stakeholders, both from the madrasah sector, Islamic boarding schools, and universities, adopt and implement a multicultural approach based on progressive Islamic values as initiated by Abdul Munir Mulkhan

Keywords

Abdul Munir Mulkhan Islamic Education Reactualisation

Article Details

References

  1. Abidin, A. M. (2021). Konsep pendidikan humanistik dan relevansinya dengan pendidikan Islam. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 15, 101–115.
  2. Afiva, N., & Albina, M. (2024). Konsep dasar pendidikan multikultural. Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan, 2(2), 143–149.
  3. Ahmad, M. (2020). Pendidikan bercorak sufisme dalam pemikiran Abdul Munir Mulkhan. Chronologia, 2(2), 47–63.
  4. Azizah, A. N. (2023). Pluralisme pada interaksi sosial siswa Muslim dan siswa non Muslim di sekolah dasar. Jurnal Inspirasi Pendidikan (Alfihris), 1(2), 229–236.
  5. Chasanah, M., & Ningsih, T. (2023). Pendidikan humanis dalam interaksi edukatif dan praktik edukatif di MI Negeri 1 Banyumas. JPGMI, 6(2), 120–130.
  6. Creswell, W. J. (2018). 30 keterampilan esensial untuk peneliti kualitatif (E. Setiyawati, Ed.). Pustaka Pelajar.
  7. Faridah, A. (2023). Pendidikan Islam multikultural sebagai sarana pembentukan karakter bangsa yang berbudi pekerti luhur. Launul Ilmi: Journal of Islam and Civilization, 1(1), 1–19.
  8. Feryani, E., & Nata, A. (2025). Pengembangan model kurikulum rekonstruksi sosial dan implementasinya pada jenjang pendidikan menengah. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2), 172–184.
  9. Gozali, G., Fathurahman, F., Mahmud, M., & Erihadiana, M. (2024). Multikulturalisme di pesantren: Menjembatani tradisi dan modernitas dalam pendidikan Islam. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(3), 3871–3880.
  10. Kadir, A., Millah, S., & Sahal, Y. F. D. (2017). Pendidikan Islam multikultural pemikiran Abdul Munir Mulkhan. Bestari: Jurnal Studi Pendidikan Islam, 14(2), 101–116.
  11. Kementerian Agama. (2019). Moderasi di Indonesia dipengaruhi tradisi pendidikan agama dan keagamaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.
  12. Khasanah, N., Aravik, H., & Hamzani, A. I. (2022). Pemikiran pendidikan progresif Abdul Munir Mulkhan perspektif filsafat pendidikan Islam. Jurnal Tarbiyah Islamiyah, 7(1), 30–40.
  13. Khoirunnisa, A., & Khoiri, Q. (2025). Pendidikan Islam dan keadilan sosial. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 14876–14883.
  14. Moleong, L. J. (2019). Metodologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosda Karya.
  15. Ma’arif, A. S. (2009). Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Mizan.
  16. Maksudin, & Jaenudin, C. (2019). Integrasi tasawuf Al-Qusyairi dalam Nahwu al-Qulub. Pascasarjana FTIK UIN Sunan Kalijaga.
  17. Malasyi, S., Tarigan, A. A., & Syahreza, R. (2024). Keadilan sosial dalam ekonomi syariah melalui tafsir surat Ar-Ra’d ayat 11 tentang perubahan sosial dan ekonomi umat. Jurnal Al-Mizan: Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi Syariah, 11(2), 298–317.
  18. Mu’ti, A. (2016). Akar pluralisme dalam pendidikan Muhammadiyah. Afkaruna, 12(1), 1–42.
  19. Mulkhan, A. M. (2022). Paradigma pemikiran Islam dan penelitian agama. Jurnal Al-Jamiah.
  20. Nata, A. (2010). Manajemen pendidikan: Mengatasi kelemahan pendidikan Islam di Indonesia. Kencana.
  21. Nuraini, S. (2021). Pendidikan humanisme dalam perspektif Islam. Jurnal Ilmiah Pedagogy, 17(1).
  22. Rohman, F. (2016). Pemikiran pendidikan Islam Muhammad Abduh. Jurnal Raudhah, 4(1), 90.
  23. Rouf, A. (2018). Islam pluralis dan multikulturalisme: Memperkokoh kesatuan bangsa. Jurnal Bimas Islam, 11(4), 783–831.
  24. Sandora, M. (2019). Konsep pendidikan anak marginal dalam perspektif pendidikan berbasis masyarakat. Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender, 18(2), 196.
  25. Santoso, M. A. F., & Khoirudin, A. (2018). Tipologi filsafat pendidikan Islam: Kajian konsep manusia dan tujuan pendidikan berbasis filsafat Islam klasik. Afkaruna, 14(1).
  26. Sawaty, I. (2025). Posisi pendidikan Islam dan pengaruhnya pada isu multikulturalisme. Jurnal Riset dan Pengabdian Interdisipliner, 2(1), 103–120.
  27. Subaidi, S. (2017). Konsep pendidikan Islam dengan paradigma humanis. Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam, 10(1), 26–49.
  28. Supriatin, A., & Nasution, A. R. (2017). Implementasi pendidikan multikultural dalam praktik pendidikan di Indonesia. Elementary: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 3(1), 1.
  29. Wahid Institute. (2019). Laporan tahunan kebebasan beragama dan intoleransi di Indonesia.