Main Article Content

Abstract

Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangkan panjang

Keywords

Belajar Berbasis Masalah

Article Details

How to Cite
Soetrimo, A. (2021). Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Masalah Pada Siswa Kelas X IPA 1 SMA Negeri 2 Tamiang Hulu T.A 2019 / 2020. Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan, 8(2), 133-141. https://doi.org/10.32505/ikhtibar.v8i2.631

References

  1. Bruner. MenujuTeori Intruksi.Cambridge:MB Press, 1966
  2. Holt, John. Bagaimana Anak belajar. Jakarta: Sinar B, 1967
  3. Indriati. HubunganSuasanaRumahDanPrestasiBelajar.Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1991
  4. Johnson, Johnson & Smith. Aktif Laerning. Edina: MN International Book, 1991
  5. Maslow. Toward a Psychology Of Being.Washinton:American PA, 1968
  6. McKeachie. Pembelajaran dan Pembelajaran. Jakarta:Nuansa, 1986
  7. Pike. Desaint Proses. Amerika: Blacwell P, 1989
  8. Richard, dkk., Longman Dictionary. Bandung:Sinar Baru, 1989
  9. Rustiyah. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara, 1991
  10. Siberman, Melvin L., Belajar Aktif. Jakarta: Nuansa, 2004